Cemburu adalah tandanya cinta’ namun cemburu kadang menyiksa bagi pasangannya yg tak mengerti. Yaaa’ cinta hanya butuh pengertian dan tak akan selesai dengan baku hantam. Cinta juga terkadang jadi bumerang buat seseorang yg terlarang’ dan yakinkan cinta tak membutakan aura. Cinta’ yaaaa cinta butuh sebuah rasa yg seimbang dengan logika.

Dia yaaa dia’ lagi trending dalam tulisan ini. Dia sosok pendiam yg ada di medan perang. Sosok yg di paksa berani di balik ketakutannya yg akut. Dia adalah perangkai kata berbagai seringai dan bingkai. Dan dia penulis sejati tentang abadinya tragedi yg mengabadi. Saya bayangkan dia di medan perang’ blingsatan dalam berangnya sebuah serang. Aku

Tak bermimpi sama sekali ku bertemu orang yg aneh dan langka. Dan ini ujian yg masuk jeruji tak bertali. Bahkan’ ku terheran² dengan apa yg dia lakukan. Betapa sangat aneh dia di hadapanku. Betapa dia sangat banyak mengernyitkan keningku beberapa keliling. Dan tetap juga gak saya paham akan apa yg dia sandang. Lalu’.. Beberapa bulan

Satu senja ku kenal seseorang di dunia yg luas tanpa batas. Saya mengaguminya’ menyantuninya dan mengasihinya. Aku berharap ada cinta kasih yg tidak berdalih. Dan saya harap menjadi pertemanan yg begitu nyaman dalam kehausanku. Teman’ ternyata kehausan itu tak bisa sembarang minum’ dan racun beruntun yg aku santun. Mengular dan berakar’ dan ku berusaha menghelanya

Kasih mematri di ujung sanubari. Sayang melanglang jauh ke sebrang sana. Anaku sayang, tidaklah engkau jadi pecundang. Kau bersama dirimu itu tidaklah semu. Kau merangkai masa depan ini haruslah sampai. Sedangkan ku hanya mendorongmu bersama sorong. Ku hanya membumbuimu dengan sejuta senyuman yang ku punya. Napasmu, langkahmu tidak ku melihatmu dengan jelas. Sakitmu kau yang

Tekanan menghantam, rajaman menghujan. Emosi menuai frekuensi dan menuntutnya berkonsekuensi. Kibas sekejap membuatnya kalap. Menundanya adalah sikap yang bijaksana. Diam, menarik diri dalam sendiri itu bergengsi. Menetralisir sinyalir berbuah bibir. Merajai rasa di atas rasa itu binasa. Diam untuk meredam itu bukanlah segan. Mengalah untuk menang, menunduk untuk merujuk. Sepatah kata membelah, sebait kalimat membidik.

Tidur nyenyak adalah impian bagi siapapun insan di dunia ini. Hati yang tenang dan pikiran yang rindang, bantal guling jadi seruling. Wahai malam yang gelap gulita. Baru ku dengar kabar yang cukup tak membuatku gentar. Keadaan yang saya khawatirkan sedikit terkikir. Dua minggu kedepan masih bertandang. Hari-hari masih bisa ku hadiri dengan berbagai aktivitas diri.

Aset meriset hal-hal yang beraset. Pola pikir yang tajir melintir akan terukir. Pandangan jauh ke depan. Puing-puing semeriwing, serak bersorak tidaklah soak. Manusia dalam manusianya, kan berusaha menjadi manusia selayaknya. Belajar berpola dan mengelola dirinya. Hidup berdampingan dengan trending tidaklah gembling. Sederhana namun membahana akan luar biasa. Kesederhanaan kan mengantarnya ke dunia yang serba beraturan

Sayang melayang sedih terkasih. Kemiskinan yang paling dahsyat adalah miskinnya kasih sayang. Jauh dari siapapun yang kau sayangi itu bengi. Berbagi kasih sayang itu dulang, memberi itu sangatlah wangi. Sayang tersambang, kasih mengais, bulan sabit adalah bibit. Redup sayup fatamorgana gegana. Hidup ini indah dalam wadah naungan rajanya rasa. Sejatinya, rasa itu adalah ratu. Dan

Segumpal sesal tak membuatku mual. Seonggok sendok tak membuatku tersedak. Pabrik yang berisik hilir mudik haruslah di obrak abrik. Ada banyak hal yang janggal. Ada sesuatu yang nyeleneh dan aneh. Penggarukan butuh seluduk dari maruk. Porak poranda membuatku gembira. Selah belah, pecahan akan mencacah. Pembenahan butuh ranah yang genah. Cermin itu kan ku banting menjadi

Tahun lalu banyak sembilu, banyak pilu yang menderu. Banyak hal yang mengajariku untuk tidak kurang ajar. Tidak nyadar dan tidak melakukan hal ikhwal yang di luar nalar. Pengalaman membuatku menyelam seberapa dalam talam yang ku tanam. Rindu yang kadang menggebu pada sesuatu yang tak mampu. Adalah pemandu jalan ke depan yang panjang dan berpandangan. Kelok

Susah payah merebah gundah. Berat merayap, senyap menyayat. Memulai itu geli, berkata iya itu waspada. Mengukir buah pikir, mereka jiwa itu haruslah bernyawa. Napas menghempas, jantung berdetak, nadi bermelodi. Urat-urat berisyarat, mata menangkap apa yang ada di depan mata. Rambut sayup terkuncup, kuku adalah bahan baku yang sangat jitu. Tangan menanam saham. Kaki jinjit melejit,

Ada kata pematah latah, ada tali pengikat yang erat. Satu langkah membelah, menapaki hari-hari yang bahari. Menunggu adalah hal yang susah berlalu. Kejelasan mempertegas gegas. Keraguan hanyalan pemicu waktu yang berpacu. Mencoba adalah hal yang luar biasa dari kebiasaan yang terbiasa. Keluar dari kenyamanan butuh pengaman yang berhalaman. Bunga itu ku tanam dalam sebuah laman.

Delik menarik, paragraf menyerap. Percik carik gemericik, gerimis mengemis dengan dinamis. Paradigma menggelora, parametrik sangatlah cerdik. Telematika berdinamika, paranormal ikut meramal. Tak ada hujan, tak ada angin, goncang meloyang gigipun terkikis habis. Ngilu,…yaaa, ngilu seperti sembilu. Redu rebam muka tenggelam, terusik berisik yang mengasyikan. Makhluk memeluk, biduk meredup. Sayup ku dengar burung camar memberi kabar.

Ada kalanya hidup ini lelah dan jengah. Ada kalanya hidup ini jenuh dan riuh. Lelah membuatku membuka celah, jenuh menyuruhku menemukan hal yang baru. Ada satu titik melirik hal yang antik. Ada satu koma yang membuatku berirama, bernyanyi dan bermelodi. Hidup ini adalah perubahan, rubahlah ke arah yang lebih baik. Hidup ini perjalanan, berjalanlah ke

Engkau yang dulu kecil seperti kancil, pernah merengek sampai bengek. Dulu pernah kita satu nyawa, satu wadah dalam suka dan duka. Dulu, kau yang polos dan lugu sangatlah lucu. Bayangan konyol yang banyol berkelebat di kepalaku. Ketika itu, sebagai ibu muda yang masih banyak tenaga, ku asyik nyuci baju sambil menunggu. Tiba-tiba engkau hilang dan

Sebuah mimpi adalah serimpi, bunga tidur yang tidak teratur. Mimpi adalah lepasnya imajinasi dan muncul bersama intuisi. Mimpi indah pembawa berkah, mimpi manis seperti buah manggis. Mimpi adalah lukisan tidak nyata yang terbaca ketika pena menata dengan seksama. Ketika air beriak tidak berarak. Dan inilah mimpiku menjadi penulis sejati tentang diri. Gambaran yang nyata tentang

Takut membuatku nurut, takut membuatku tersudut. Takut membuatku diam dari keributan. Ketakutan yang akut membuatku melempar jangkar tuk berkoar pada akhirnya. Meronta dan bergerilya. Pemberani, hanyalah manusia penakut yang berusaha keluar dari rasa takut itu sendiri. Membuka tabir biru berselimut kain ungu. Melangkahkan kakinya untuk membuktikan apa sebenarnya yang terjadi? Keadaan terserang membuatku berang. Keadaan

Pengabaiannya yang santai membuat ku terbuai dalam lihai. Penataannya yang sempurna membawaku ke negri kahyangan yang tak pernah ku tandangi sebelumnya. Bawaannya yang berwibawa membuatku jadi manusia yang sendawa akan reka. Chatku pagi di baca siang, dibalas sore ku tetap hore. Ku memahami betul seorang lelaki dewasa yang bijaksana. Ku memahami betul susunan kata yang

Berpikir cerdik tanpa menghardik, berpikir cerdas tanpa membilas. Terlena buaian angin surgawi adalah manusiawi. Salah dan benar bukanlah nanar. Salah hanyalah makalah pencari berkah. Redu rebam hidup bergelombang, sunyi senyap tiarap merayap. Adalah sekelumit kesulitan yang masih bisa di atasi dengan narasi. Ada posisi berdasi yang menutupi rasa gengsi. Ada perlakuan yang seharusnya bisa di

Rundung terhuyung, dunia merungrung. Hidup ini terkadang terjepit dan sulit menggigit. Ketidak berdayaan membuat manusia yang lainnya terperdaya. Pinjam jasa maupun harta adalah hal yang biasa. Yang tak biasa adalah pinjam simpati yang tak pernah di dapati. Sekali menolong tidaklah melonglong, sekali pinjam tidaklah merajam. Pengharapan untuk kembali itu hal biasa. Mengada-ada hal yang tak

TOP