Matamu yang sendu memandu sudut-sudut yang syahdu. Kedewasaan semakin nyata, ada di pelupuk matamu. Hidup ini mengajarimu dan menatarmu naik dari dataran rendah, dan menanjak pada hal-hal yang bersajak. Lekuk liku yang tak tersikut kau mulai menyentuhnya dengan enyuh. Niscaya, berbagai hal mulai kau ketahui dengan lebih teliti. Perjalan panjangmu membuatmu meregang dari nyenyaknya tidur

Setelah ku berusaha menggali lapangan bebas hambatan. Ku ingin apapun bisa ku tampung dengan senyum. Tak merasakan lagi sakitnya tersentuh suluh, terkena sembilu dan terbesit sisik. Diri ini begitu lega dan leluasa, begitu genah dan tumaninah. Kemaren yang begitu loreng tercoreng topeng, kini baik tanpa sisik. Kemaren yang lancang mengguncang, kini terang benderang. Langit mengintip,

Tahun ini baru saja ku mulai, coretan biru menyetujui pembaharuan. Tentu, dongkrak semangat yang di kencangkan. Tentu, ikat pinggang yang di sandangkan. Leher tertarik, mata melirik, cari peluang bersama sang petualang. Tegapkan badan, singsingkan baju, angkat dagu dan melangkah seribu. Badan menata, rambutpun sedikit berjumput. Wahai ilalang di sana, haruskah ku jadi pecundang?. Eeh tidak

Suara itu begitu lembut. Senyawa itu begitu bernyawa. Adalah satu kalimat yang baru saja ku temui maknanya. Wahai pengetahuan! Tidaklah kau berada di perpustakaan yang mewah dan megah. Dan engkaupun terkadang ku temui pada seseorang yang masih belia. Engkaupun terkadang ada di bungkus makanan kecil yang sepertinya kerdil. Ku haus akan dikau, wahai pemberitahuku. Ku

Tentang negara-negara yang mengunci dirinya, negara kitapun sama. Ketika manusia bergunjing tentang gonjang ganjing, kita tetap menjinjing. Menulislah di kala kau dalam keadaan terjerembab dan sembab. Temukan ruang terabas tanpa batas. Temukan ruang bawah tanah tanpa ranah. Temukan jawaban demi jawaban itu. Engkau sedang mencari, siapa dirimu sekarang ini? Insan yang kehilangan kemerdekaan melangkah. Insan

Ku berpikir di ujung sana ada sebuah mungkin. Ku berpikir di luar sana banyak wajah tanpa dosa. Menutup separuh mukanya tuk berdinamika. Mempertahankan hidupnya hanya demi menjaga populasinya. Yaaa, ku kira akan ada krisis oksigen dan antigen. Ku pikir di bumi menyerupai astronot yang berknock. Bergerilya berperang dengan apa yang tak bisa di pandang. Waah,..bedebahku

Kasih mematri di ujung sanubari. Sayang melanglang jauh ke sebrang sana. Anaku sayang, tidaklah engkau jadi pecundang. Kau bersama dirimu itu tidaklah semu. Kau merangkai masa depan ini haruslah sampai. Sedangkan ku hanya mendorongmu bersama sorong. Ku hanya membumbuimu dengan sejuta senyuman yang ku punya. Napasmu, langkahmu tidak ku melihatmu dengan jelas. Sakitmu kau yang

Tekanan menghantam, rajaman menghujan. Emosi menuai frekuensi dan menuntutnya berkonsekuensi. Kibas sekejap membuatnya kalap. Menundanya adalah sikap yang bijaksana. Diam, menarik diri dalam sendiri itu bergengsi. Menetralisir sinyalir berbuah bibir. Merajai rasa di atas rasa itu binasa. Diam untuk meredam itu bukanlah segan. Mengalah untuk menang, menunduk untuk merujuk. Sepatah kata membelah, sebait kalimat membidik.

Tidur nyenyak adalah impian bagi siapapun insan di dunia ini. Hati yang tenang dan pikiran yang rindang, bantal guling jadi seruling. Wahai malam yang gelap gulita. Baru ku dengar kabar yang cukup tak membuatku gentar. Keadaan yang saya khawatirkan sedikit terkikir. Dua minggu kedepan masih bertandang. Hari-hari masih bisa ku hadiri dengan berbagai aktivitas diri.

Aset meriset hal-hal yang beraset. Pola pikir yang tajir melintir akan terukir. Pandangan jauh ke depan. Puing-puing semeriwing, serak bersorak tidaklah soak. Manusia dalam manusianya, kan berusaha menjadi manusia selayaknya. Belajar berpola dan mengelola dirinya. Hidup berdampingan dengan trending tidaklah gembling. Sederhana namun membahana akan luar biasa. Kesederhanaan kan mengantarnya ke dunia yang serba beraturan

Sayang melayang sedih terkasih. Kemiskinan yang paling dahsyat adalah miskinnya kasih sayang. Jauh dari siapapun yang kau sayangi itu bengi. Berbagi kasih sayang itu dulang, memberi itu sangatlah wangi. Sayang tersambang, kasih mengais, bulan sabit adalah bibit. Redup sayup fatamorgana gegana. Hidup ini indah dalam wadah naungan rajanya rasa. Sejatinya, rasa itu adalah ratu. Dan

Segumpal sesal tak membuatku mual. Seonggok sendok tak membuatku tersedak. Pabrik yang berisik hilir mudik haruslah di obrak abrik. Ada banyak hal yang janggal. Ada sesuatu yang nyeleneh dan aneh. Penggarukan butuh seluduk dari maruk. Porak poranda membuatku gembira. Selah belah, pecahan akan mencacah. Pembenahan butuh ranah yang genah. Cermin itu kan ku banting menjadi

Tahun lalu banyak sembilu, banyak pilu yang menderu. Banyak hal yang mengajariku untuk tidak kurang ajar. Tidak nyadar dan tidak melakukan hal ikhwal yang di luar nalar. Pengalaman membuatku menyelam seberapa dalam talam yang ku tanam. Rindu yang kadang menggebu pada sesuatu yang tak mampu. Adalah pemandu jalan ke depan yang panjang dan berpandangan. Kelok

Susah payah merebah gundah. Berat merayap, senyap menyayat. Memulai itu geli, berkata iya itu waspada. Mengukir buah pikir, mereka jiwa itu haruslah bernyawa. Napas menghempas, jantung berdetak, nadi bermelodi. Urat-urat berisyarat, mata menangkap apa yang ada di depan mata. Rambut sayup terkuncup, kuku adalah bahan baku yang sangat jitu. Tangan menanam saham. Kaki jinjit melejit,

Ada kata pematah latah, ada tali pengikat yang erat. Satu langkah membelah, menapaki hari-hari yang bahari. Menunggu adalah hal yang susah berlalu. Kejelasan mempertegas gegas. Keraguan hanyalan pemicu waktu yang berpacu. Mencoba adalah hal yang luar biasa dari kebiasaan yang terbiasa. Keluar dari kenyamanan butuh pengaman yang berhalaman. Bunga itu ku tanam dalam sebuah laman.

Delik menarik, paragraf menyerap. Percik carik gemericik, gerimis mengemis dengan dinamis. Paradigma menggelora, parametrik sangatlah cerdik. Telematika berdinamika, paranormal ikut meramal. Tak ada hujan, tak ada angin, goncang meloyang gigipun terkikis habis. Ngilu,…yaaa, ngilu seperti sembilu. Redu rebam muka tenggelam, terusik berisik yang mengasyikan. Makhluk memeluk, biduk meredup. Sayup ku dengar burung camar memberi kabar.

Ada kalanya hidup ini lelah dan jengah. Ada kalanya hidup ini jenuh dan riuh. Lelah membuatku membuka celah, jenuh menyuruhku menemukan hal yang baru. Ada satu titik melirik hal yang antik. Ada satu koma yang membuatku berirama, bernyanyi dan bermelodi. Hidup ini adalah perubahan, rubahlah ke arah yang lebih baik. Hidup ini perjalanan, berjalanlah ke

Engkau yang dulu kecil seperti kancil, pernah merengek sampai bengek. Dulu pernah kita satu nyawa, satu wadah dalam suka dan duka. Dulu, kau yang polos dan lugu sangatlah lucu. Bayangan konyol yang banyol berkelebat di kepalaku. Ketika itu, sebagai ibu muda yang masih banyak tenaga, ku asyik nyuci baju sambil menunggu. Tiba-tiba engkau hilang dan

Sebuah mimpi adalah serimpi, bunga tidur yang tidak teratur. Mimpi adalah lepasnya imajinasi dan muncul bersama intuisi. Mimpi indah pembawa berkah, mimpi manis seperti buah manggis. Mimpi adalah lukisan tidak nyata yang terbaca ketika pena menata dengan seksama. Ketika air beriak tidak berarak. Dan inilah mimpiku menjadi penulis sejati tentang diri. Gambaran yang nyata tentang

Takut membuatku nurut, takut membuatku tersudut. Takut membuatku diam dari keributan. Ketakutan yang akut membuatku melempar jangkar tuk berkoar pada akhirnya. Meronta dan bergerilya. Pemberani, hanyalah manusia penakut yang berusaha keluar dari rasa takut itu sendiri. Membuka tabir biru berselimut kain ungu. Melangkahkan kakinya untuk membuktikan apa sebenarnya yang terjadi? Keadaan terserang membuatku berang. Keadaan

Pengabaiannya yang santai membuat ku terbuai dalam lihai. Penataannya yang sempurna membawaku ke negri kahyangan yang tak pernah ku tandangi sebelumnya. Bawaannya yang berwibawa membuatku jadi manusia yang sendawa akan reka. Chatku pagi di baca siang, dibalas sore ku tetap hore. Ku memahami betul seorang lelaki dewasa yang bijaksana. Ku memahami betul susunan kata yang

TOP